Mentari mulai muncul ke ufuk timur menampakkan sinarnya menyambut hari indah yang penuh kejutan, dengan diiringi rintik air hujan yang membasahi dedaunan yang menyapa setiap orang yang melintasinya. Hari itu aku disambut dengan suasana pagi yang sangat dingin, entah kenapa tiba-tiba aku merasakan suatu hal yang tidak akan pernah aku duga sebelumnya. Pagi itu disaat semua orang sudah pergi, aku hanya berdiam diri. Entah apa yang aku pikirkan.
Hanya menulis sebuah cerita kecil yang menurutku tidak layak untuk dibaca tetapi hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mengisi kekosongan pagi ku yang tak jelas, menunggu sebuah pengumuman yang sedari dulu aku nanti. Apakah aku bisa lulus di universitas itu? Apakah aku bisa membuat orang tuaku tersenyum karna keberhasilanku? Pikiran itu selalu terlintas di benak ku. Membuat orang tuaku bangga karena pencapaian ku, itu tujuan awal yang sudah aku buat sejak duduk di SD.Waktu itu tepat pukul 9 pagi, hape ku berdering entah itu dari siapa. Karena rasa penasaran, aku terpaksa mengangkatnya dan seketika itu aku terdiam sejenak mendengar apa yang orang itu katakan. “Aku lulus di UPI program kemitraan ini?”. Sebuah kabar gembira untuk keluargaku. Aku langsung sujud syukur atas keberhasilanku, emang penggapaian ini belum seberapa. Ini merupakan awal dari bagian hidupku. Seorang gadis lugu yang dulu kerjaan nya hanya bisa bermimpi berkuliah diluar kota, akhirnya tercapai berkat doa mereka, usaha dan niatku. Sedari duduk dibangku SD, aku hanya mengucapkan satu kalimat yang selalu membuat ibuku geram “Aku mau kuliah diluar kota”, tak sedikit amarah ibu ku yang mendengar keluhan ku disetiap malam. Mereka mengira bahwa itu hanya gurauan dari mulut bawelku. Iya aku sadar, siapa aku? Siapa orang tuaku? Apa mereka mampu membiayai kuliah ku diluar kota? Mana mungkin aku memberatkan orang tuaku. Impian hanya impian, tidak mungkin anak biasa seperti aku bisa berkuliah ditempat yang bagus. Tapi, Allah berkehendak lain. Allah telah membukakan jalan untuk meneruskan cita-citaku. Iya ini bisa dibilang keajaiban bagi hidupku. Ketika mendapat kabar gembira itu, aku langsung memberitahu ibu. Apakah dia bangga atas apa yang aku dapat? Ah aku tak tahu, dia tidak pernah mengungkapan isi perasaannya. Memuji ku saja jarang. Tapi, terlihat dari sorotan matanya ibuku sangat bangga mendengarnya. Aku terdiam. Tak lama lagi aku harus meninggalkan rumah kecil ini, meninggalkan keluargaku, meninggalkan suasana rumah yang slalu diiringi gelak tawa bahkan amarah. Apakah aku mampu tanpa mereka disampingku? Apakah aku mampu tanpa ibu yang membimbingku? Apakah aku mampu tanpa ayah yang slalu menasehatiku? Hari-hari ku bakal berubah 100%. Tapi, aku percaya dengan ini dengan cara inilah aku bisa membawa kebahagiaan buat orang tua dan keluargaku. Walau aku jauh, aku percaya mereka tetap ada dibelakangku mendorongku memotivasiku menasihatiku membimbingku agar aku bisa menjadi orang yang berguna. Tibalah saatnya tanggal 20 Agustus, hari dimana aku harus meninggalkan kota kelahiranku demi menuntut ilmu. Mereka setia menemaniku, mengantarkanku sampai bandara. Tak hanya orang tuaku, nenek pun ikut untuk mengantarku. Di mobil, aku terdiam menangis membayangi kehidupanku esok. Ibu dan nenek slalu mengingatkan ku yang baik, aku tahu mereka juga menahan rasa sedih. Sesampai di bandara, itulah merupakan puncak tangisku. Aku yang cengeng, yang tidak bisa apa-apa harus berpisah dengan mereka. Tak pernah terdengar lagi kebawelan dari mulut adik ku yang tidak pernah bisa diam. Aku melupakan sejenak kesedihanku, aku mencoba menukarnya dengan senyuman untuk orang tuaku dan teman-teman baruku. Aku.....Aku pasti bisa melewatinya!
Detik demi detik terlewati, menit, jam, bahkan bulan pun berlalu begitu saja tak biasanya. Dinginnya hujan, panasnya mentari, gelapnya malam pun begitu saja terlewati dalam kehidupan baru yang tidak dipikirkan sebelumnya. Suasana yang sangat berbeda dari sebelumnya. Entah kapan rasa nyaman itu berdiri didepan ku. Berdiri diam diruang kekosongan. Sudah lebih 3 bulan disini,aku mulai bisa terbiasa dilingkungan baru ini. Beruntung aku bisa bertemu sama mereka, mereka semua adalah keluarga ku disini. Mereka selalu menasehatiku disaat aku salah. Aku juga mendapatkan teman-teman yang luar biasa di kampus. Aku bangga menjadi salah satu bagian dari Kemakom. Aku mendapatkan ilmu dari mereka yang lebih pintar. Inilah awal dari kesuksesan ku kelak. Semoga aku dan kita semua bisa mencapai cita-cita utama kita disini, membahagiakan orang tua dan keluarga kita. 
Komentar