Aku tetap disini, masih ditemani bayangan hangatnya kebersamaan kita dulu. Aku masih berjalan, melewati sepinya waktu tanpa hadirnya cintamu. Aku tak peduli seberapa sakitnya yang kau berikan, seberapa banyaknya kau khianati, seberapa jauhnya kulalui cerita ini dengan kebohongan. Aku masih bisa tersenyum. Bahkan, aku tak mampu mengeluarkan satu tetes air mata lagi. Biarkan bumi yang menggantikan tangisanku ini. Aku hanya bisa bercerita dengan sebuah coretan tulisan-tulisan kecil yang terkadang membuat hatiku lega dan beristirahat dari rasa sakit itu.
Hari-hariku masih sama seperti dulu, kamu masih disini bersamaku tapi hanya sebagai seorang teman, tak lebih. Dua tahun, bukanlah perjalanan yang singkat. Berawal dari perkenalan kita yang terjadi begitu saja. Tak pernah terpikir bahwa Aku bisa mencintai seseorang hanya dalam satu minggu. Kamu, seseorang yang sangat asing bagiku. Seseorang yang sama sekali tak aku toleh sedikitpun karena kamu bukan tipe yang aku inginkan. Tapi waktu menghapus semuanya, aku jatuh cinta dengan penampilan dan caramu. Masih ingatkah? Dulu, kamu bertingkah seperti dunia ini hanya milik kamu saja, seolah kamu merasa kamu yang paling hebat. Iya, aku memperhatikanmu diam-diam, pura-pura tak suka tapi aku selalu mencuri pandangan kearahmu. Masih ingatkah kamu? Dulu kamu mengucapkan tiga kata itu didepan mataku sampai 12 kali bahkan lebih. Membayangi itu semua membuat aku lupa akan semuanya, rasa sakit dan kecewa yang kamu berikan. Tetapi sayangnya, hanya sementara.
Namun, pada saat itu juga aku masih mencintai orang lain. Aku dan dia pada saat itu hanya sebatas teman. Aku memutuskan untuk sendiri, karena terlalu sering dia membuatku kecewa. Kamu datang dan sangat mudah bagiku untuk melupakannya dan juga seseorang yang tak pernah kudapatkan, cinta pertamaku. Aku mencoba untuk membuka hati kembali, dan itu untuk kamu. Kamu membawakan bahagiaku kembali. Kamu memberikanku tawa dalam hidupku. Sayangnya, aku tak pernah tau apa yang ada dalam hatimu. Memang, kehidupan itu tidak hanya ada kebahagiaan saja, pasti selalu diiringi kesedihan dan juga kekecewaan.
Mimpiku, menginginkan semuanya baik-baik saja. Tetapi nyatanya, selalu ada orang lain yang datang dihubungan kita. Mungkin dia cinta pertamamu yang tak pernah kamu lupakan bahkan suatu saat nanti kamu akan memperjuangkannya kembali. Aku selalu mencoba untuk menutup mata dan telinga, aku mencoba untuk menerima tapi aku hanyalah aku yang tak mungkin setegar itu. Aku juga tak luput dari kesalahan yang selalu kunodai hubungan kita karena masalah yang aku perbuat. Tapi, aku tak pernah mencoba untuk memalingkan hati. Aku masih berdiri dijalan yang sama.
Lambat laun, aku juga menyadari. Aku terlalu egois. Mana mungkin cinta pertamanya bisa dilupakan begitu saja karena aku. Aku? Yang tidak ada apa-apanya dibanding dia. Aku hanya mencoba untuk selalu ada disaat dia butuhkan. Aku hanya mencoba berpura-pura tegar disaat aku mengetahui siapa saja yang ada dalam hatimu. Aku hanya melakukan apa yang aku bisa. Mungkin suatu saat nanti kamu akan mengetahui, aku mencintaimu dengan tulus.
Karena ketulusanku, aku dikhianati. Apapun bisa terjadi. Hal yang pernah kubayangkan dulunya, sesuatu yang sangat kutakuti. Kenapa bisa terjadi? Aku memberikan kesempatan, aku memberikan waktu, aku tak menyadari itu akan terjadi. Entahlah, mungkin orang lain yang ada diposisiku bakal merasakan yang sama. Hancur. Kecewa. Aku dipermainkan oleh kamu dan juga temanku sendiri. Entah apa yang mereka lakukan dibelakangku. Dari awal, aku sudah merasa tak nyaman hadirnya dia yang selalu ada dihubungan kita berdua. Dan kini semuanya terjadi, aku mengetahui semuanya setelah satu tahun aku berada dalam sandiwaranya. Apa semua ketulusan harus dibalas seperti ini? Apa aku terlalu rendah? Apa aku emang pantas mendapat perlakuan seperti itu? Apa kamu pernah memikirkan perasaanku? Aku tak pernah menginginkan untuk menjadi prioritasmu, aku hanya ingin kamu bisa mengingatku disaat aku tak ada. Bukan melupakan begitu saja lalu mencoba bermain dengan yang lain.
Banyak cara yang aku lakukan agar aku bisa melupakannya. Aku mencoba untuk jatuh cinta lagi. Tetapi entahlah, aku tidak bisa melupakan semuanya. Aku kelihatan baik-baik saja didepanmu bukan berarti aku tak merasakan sakit. Aku menyimpan semua itu, aku menggenggam rasa sakit itu dengan erat, aku tersenyum agar aku tak sedikitpun menangisi nya lagi. Sandiwara apa yang aku lakukan sekarang? Sudah sangat jelas luka hati ini, tetapi aku masih saja mencintaimu.
Kamu tau? Aku tak suka ketika kamu memintaku untuk menjagamu saat kamu lelah dan tidur, karena bukan canda tawa dan kebahagiaan yang aku bayangkan melainkan rasa sakit yang kamu berikan. Aku ingin kamu selalu membuka matamu ketika kamu disampingku, agar aku hanya bisa melihat indahnya cinta kita dulu. Berlebihan, ya? Tapi inilah aku. Bahkan hati ini sudah sangat terlalu lelah, tak mampu untuk berjalan bersamamu lagi. Tetapi sulit untuk tidak mencintaimu.
Tuhan benar. Tuhan memberikan kita rasa agar kita dapat merasakan semua rasa yang ada. Dan aku sudah merasakan semuanya. Ketulusanku, kepahitanku juga.
Komentar